Hariku telah tiba….
Selamat tinggal semua…….
Saat ini semua sunyi……,begitu sunyi……

Tidak ada lagi…. arti harta…………
Tidak ada lagi.…arti jabatan………
Tidak ada lagi….arti keangkuhan…….
Tidak ada lagi…. arti kesenangan duniawi…….

Ya Allah ..
Andai….aku diperbolehkan kembali lagi ke dunia……aku akan …..

Mengikuti….. perintah-Mu, dan menjauhi larangan-Mu, Ya Allah ……
aku akan rajin beribadah….
aku tidak akan menyakiti hati kedua orang tua….
aku tidak akan menyakiti hati guru….
aku tidak akan menyakiti hati teman….
aku tidak akan menyakiti hati orang lain….
aku tidak akan melakukan tipu daya….
aku akan penuhi semua hutangku, janjiku, ….
aku akan bertaubat dan tidak akan melakukan maksiat lagi….
Tapi …..aku sudah di alam barzakh ini…, dan tidak dapat melakukan itu semua……

Kini…tinggal menunggu…. pengadilan….di hari akhir nanti…..

sumber

Ketika aku lagi ber-surfing, ketemukan suatu tulisan yang membuat tergelitik untuk memuat

Jauh dari maksud kooptasi atau kegiatan sejenisnya, dari satu forum aku menemukan Lirik “Beliau” yang sangat menggelitik untuk menjadikan pencerahan, mungkin bisa jadi dengan pilihan kata yang terbuka jauh dari kesan ataupun aksentuasi yang bersifat sarkasme, kita jauh lebih jeli dalam menangkap maksud sang empu-nya “lirik”, selamat menikmati bait-baitnya:

Baca Lebih Lanjut »

Ternyata setan bisa juga buat surat.

Inilah surat dari setan untuk manusia yang telah terjun ke dalam perangkapnya yang sesat.
Apakah surat ini tertuju padamu? Renungkanlah!

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktivitas harianmu.

Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu

Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu

Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya Baca Lebih Lanjut »

suatu saat, di sebuah kota sedang diadakan lomba balap sepeda. suasana begitu sangat meriah karena pada hari itu adalah pertandingan final. Di babak final tersebut tinggal tersisa 5 orang pemain. salah seorang pemain tersebut bernama Adi yang kelihatannya orangnya biasa-biasa saja. Dan dari ke-5 pemain tersebut sepeda Adi terlihat yang paling jelek maklum sepeda balapnya model lama & sudah agak tua, dan beberapa anak menyangsikan kekuatan sepeda tersebut untuk berpacu dengan sepeda lawannya yang tergolong model terbaru. Namun Adi bangga dengan semua itu, sebab sepeda itu adalah sepeda kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakeknya yang sudah tiada.

Tibalah saatnya pertandingan final akan segera dimulai, semua pemain memposisikan diri di arena pacunya masing-masing. Setiap anak sudah bersiap untuk memacu sepedanya. namun ketika peluit aba-aba hendak ditiup tiba-tiba Adi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. matanya terpejam dan tanganya tertangkup. dan semenit kemudian ia berkata “Ya, aku siap”. Baca Lebih Lanjut »

Ada sebuah cerita yang merupakan kenyataan hidup dari seorang teman.

Teman ini bekerja di Bea Cukai. Kebetulan teman ini dibagian yang orang bilang “Teles”, di bagian gudang pengiriman dari LN yang bermasalah.

Suatu saat beliau kedatangan seorang ajudan dari penguasa negeri ini. orang ini mau mengambil sebuah HD yang merupakan pesanan dari anak sang penguasa. Tapi keinginan itu tidak dikabulkan oleh teman karena surat-surat bermasalah. Sang ajudan marah-marah, dan memaksa untuk mengambil kiriman tersebut. Tapi beliau tetap mempertahankan apa yang menjadi peraturan. Sang Ajudan pulang dengan rasa marah dan kecewa.

Sehari setelah itu, datang lagi seorang jendral untuk mengambil pesanan itu. Tetap dengan tegas Beliau tolak dengan tegas. Beliau hanya berpesan untuk sang jendral untuk mengurus dulu surat-suratnya. Sang Jendral pulang dengan tangan hampa. Sorenya Beliau dipanggil oleh pimpinannya, dan meminta untuk melepaskan pesanan sang anak penguasa. Tetap dengan tegas beliau tolak. Alasan beliau mempertahankan itu adalah karena beliau mempertahankan peraturan yang telah dibuat. Sang atasan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dari kejadian itu, membuat saya berpikir pada jaman seperti ini masih ada seorang yang tegas mempertahankan peraturan. Peraturan yang merupakan aturan-aturan dan batasan-batasan dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Sayang saat ini beliau ditempatkan dibagian kepegawaian mengurusi pensiuan. Tapi ketika saya bilang itu, beliau hanya tersenyum dan berkata bahwa apa yang dikerjakan saat ini lebih membuat dirinya bahagia. Karena jauh dari rasa takut.

Salut diriku bagi seorang teman yang enthah dimana sekarang.

Dirimu adalah inspirasi bagi saya.

photo-pelanggaran5

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju. Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!” “Hai, Jon.” Tanpa senyum. “Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.” “Oh ya?” Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.” “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.” Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. “Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.” Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi. “Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”. Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… …. Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..

Begitu Indahnya Taman Hati

Berlari Merauk Kata Hati

Entah Hati Siapa…..

Ku Genggam Erat,

Tak Ku Lepas Bebas

Senyum Aku Merasa Puas…..

Ku buka Hati….

Yang Ku Dapat Adalah Hati Yang Putih

Berkilau…. Melayang …. Terbang…. Tinggi …. Menghilang ….

Meninggalkan Hatiku Sendiri

Semarang, Pebruari 09

Wajah melas, berjalan disela-sela mobil, menengadah  tangan ke atas. Itu bukan berdoa, tapi meminta belas kasih orang. Ya itulah topeng kehidupan anak kecil yang bergerak ditengah malam, mencari sesuap nasi (entah untuk siapa ?). Kadang aku jumpai bukan hanya satu, tapi lebih dari 2 orang. Umur mereka masih terlalu kecil untuk mencari nafkah?

Itulah potret kehidupan kota di Indonesia.

Apa ada yang salah dengan itu ?

Bagaimana undang-undang pelindungan anak?

Kadang apa yang aku pikirkan tentang mereka, hanya sebuah pikiran yang entah aku sendiri tidak menemukan jawaban ?

mDi hutan-hutan Afrika ada suatu cara unik untuk menangkap monyet menggunakan perangkap supaya monyet-monyet bisa ditangkap dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Pemburu monyet menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu di isi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan. Baca Lebih Lanjut »

Bertahun-tahun aku selalu memikirkan hal ini. Suatu keinginan yang telah lama aku pendam. Keinginan yang selalu menghantui ketika Lebaran tiba.

Ya keinginan yang membuat aku menangis dalam hati. Ketika lebaran tiba kita sungkem pada orang tua kita dan kepada orang-orang yang dituakan, terbayang aku akan nasib orang-orang tua di pantai Jompo. Hari itu adalah suatu penantian bagi mereka. Terbayang rasanya wajah mereka kecewa ketika malam datang. Menangis yang tertahan menunggu anak-anak yang mereka besarkan. Mereka kebanyakan adalah orang tua yang dititipkan (atau dipindahkan) ke panti Jompo oleh anak-anak mereka karena berbagai alasan. Sungguh suatu kekejaman yang sangat besar, anak yang dilahir, dibesarkan akhirnya meninggalkan mereka disana. Baca Lebih Lanjut »