Arsip Bulanan: Februari 2009

Begitu Indahnya Taman Hati

Berlari Merauk Kata Hati

Entah Hati Siapa…..

Ku Genggam Erat,

Tak Ku Lepas Bebas

Senyum Aku Merasa Puas…..

Ku buka Hati….

Yang Ku Dapat Adalah Hati Yang Putih

Berkilau…. Melayang …. Terbang…. Tinggi …. Menghilang ….

Meninggalkan Hatiku Sendiri

Semarang, Pebruari 09

Hariku telah tiba….
Selamat tinggal semua…….
Saat ini semua sunyi……,begitu sunyi……

Tidak ada lagi…. arti harta…………
Tidak ada lagi.…arti jabatan………
Tidak ada lagi….arti keangkuhan…….
Tidak ada lagi…. arti kesenangan duniawi…….

Ya Allah ..
Andai….aku diperbolehkan kembali lagi ke dunia……aku akan …..

Mengikuti….. perintah-Mu, dan menjauhi larangan-Mu, Ya Allah ……
aku akan rajin beribadah….
aku tidak akan menyakiti hati kedua orang tua….
aku tidak akan menyakiti hati guru….
aku tidak akan menyakiti hati teman….
aku tidak akan menyakiti hati orang lain….
aku tidak akan melakukan tipu daya….
aku akan penuhi semua hutangku, janjiku, ….
aku akan bertaubat dan tidak akan melakukan maksiat lagi….
Tapi …..aku sudah di alam barzakh ini…, dan tidak dapat melakukan itu semua……

Kini…tinggal menunggu…. pengadilan….di hari akhir nanti…..

sumber

Ketika aku lagi ber-surfing, ketemukan suatu tulisan yang membuat tergelitik untuk memuat

Jauh dari maksud kooptasi atau kegiatan sejenisnya, dari satu forum aku menemukan Lirik “Beliau” yang sangat menggelitik untuk menjadikan pencerahan, mungkin bisa jadi dengan pilihan kata yang terbuka jauh dari kesan ataupun aksentuasi yang bersifat sarkasme, kita jauh lebih jeli dalam menangkap maksud sang empu-nya “lirik”, selamat menikmati bait-baitnya:

Baca Lebih Lanjut »

Ternyata setan bisa juga buat surat.

Inilah surat dari setan untuk manusia yang telah terjun ke dalam perangkapnya yang sesat.
Apakah surat ini tertuju padamu? Renungkanlah!

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktivitas harianmu.

Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu

Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu

Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya Baca Lebih Lanjut »

Wajah melas, berjalan disela-sela mobil, menengadah  tangan ke atas. Itu bukan berdoa, tapi meminta belas kasih orang. Ya itulah topeng kehidupan anak kecil yang bergerak ditengah malam, mencari sesuap nasi (entah untuk siapa ?). Kadang aku jumpai bukan hanya satu, tapi lebih dari 2 orang. Umur mereka masih terlalu kecil untuk mencari nafkah?

Itulah potret kehidupan kota di Indonesia.

Apa ada yang salah dengan itu ?

Bagaimana undang-undang pelindungan anak?

Kadang apa yang aku pikirkan tentang mereka, hanya sebuah pikiran yang entah aku sendiri tidak menemukan jawaban ?

suatu saat, di sebuah kota sedang diadakan lomba balap sepeda. suasana begitu sangat meriah karena pada hari itu adalah pertandingan final. Di babak final tersebut tinggal tersisa 5 orang pemain. salah seorang pemain tersebut bernama Adi yang kelihatannya orangnya biasa-biasa saja. Dan dari ke-5 pemain tersebut sepeda Adi terlihat yang paling jelek maklum sepeda balapnya model lama & sudah agak tua, dan beberapa anak menyangsikan kekuatan sepeda tersebut untuk berpacu dengan sepeda lawannya yang tergolong model terbaru. Namun Adi bangga dengan semua itu, sebab sepeda itu adalah sepeda kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakeknya yang sudah tiada.

Tibalah saatnya pertandingan final akan segera dimulai, semua pemain memposisikan diri di arena pacunya masing-masing. Setiap anak sudah bersiap untuk memacu sepedanya. namun ketika peluit aba-aba hendak ditiup tiba-tiba Adi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. matanya terpejam dan tanganya tertangkup. dan semenit kemudian ia berkata “Ya, aku siap”. Baca Lebih Lanjut »

mDi hutan-hutan Afrika ada suatu cara unik untuk menangkap monyet menggunakan perangkap supaya monyet-monyet bisa ditangkap dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Pemburu monyet menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu di isi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan. Baca Lebih Lanjut »