Ada sebuah cerita yang merupakan kenyataan hidup dari seorang teman.

Teman ini bekerja di Bea Cukai. Kebetulan teman ini dibagian yang orang bilang “Teles”, di bagian gudang pengiriman dari LN yang bermasalah.

Suatu saat beliau kedatangan seorang ajudan dari penguasa negeri ini. orang ini mau mengambil sebuah HD yang merupakan pesanan dari anak sang penguasa. Tapi keinginan itu tidak dikabulkan oleh teman karena surat-surat bermasalah. Sang ajudan marah-marah, dan memaksa untuk mengambil kiriman tersebut. Tapi beliau tetap mempertahankan apa yang menjadi peraturan. Sang Ajudan pulang dengan rasa marah dan kecewa.

Sehari setelah itu, datang lagi seorang jendral untuk mengambil pesanan itu. Tetap dengan tegas Beliau tolak dengan tegas. Beliau hanya berpesan untuk sang jendral untuk mengurus dulu surat-suratnya. Sang Jendral pulang dengan tangan hampa. Sorenya Beliau dipanggil oleh pimpinannya, dan meminta untuk melepaskan pesanan sang anak penguasa. Tetap dengan tegas beliau tolak. Alasan beliau mempertahankan itu adalah karena beliau mempertahankan peraturan yang telah dibuat. Sang atasan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dari kejadian itu, membuat saya berpikir pada jaman seperti ini masih ada seorang yang tegas mempertahankan peraturan. Peraturan yang merupakan aturan-aturan dan batasan-batasan dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Sayang saat ini beliau ditempatkan dibagian kepegawaian mengurusi pensiuan. Tapi ketika saya bilang itu, beliau hanya tersenyum dan berkata bahwa apa yang dikerjakan saat ini lebih membuat dirinya bahagia. Karena jauh dari rasa takut.

Salut diriku bagi seorang teman yang enthah dimana sekarang.

Dirimu adalah inspirasi bagi saya.

Bertahun-tahun aku selalu memikirkan hal ini. Suatu keinginan yang telah lama aku pendam. Keinginan yang selalu menghantui ketika Lebaran tiba.

Ya keinginan yang membuat aku menangis dalam hati. Ketika lebaran tiba kita sungkem pada orang tua kita dan kepada orang-orang yang dituakan, terbayang aku akan nasib orang-orang tua di pantai Jompo. Hari itu adalah suatu penantian bagi mereka. Terbayang rasanya wajah mereka kecewa ketika malam datang. Menangis yang tertahan menunggu anak-anak yang mereka besarkan. Mereka kebanyakan adalah orang tua yang dititipkan (atau dipindahkan) ke panti Jompo oleh anak-anak mereka karena berbagai alasan. Sungguh suatu kekejaman yang sangat besar, anak yang dilahir, dibesarkan akhirnya meninggalkan mereka disana. Baca Lebih Lanjut »

Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang-jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti-werdha bersama dengan teman-temannya.
Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-2 yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-2 tua, tiba-2 mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara.
Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya. Baca Lebih Lanjut »

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak
perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”. Baca Lebih Lanjut »

Four Steps to handle a problem :
Belajar 4 respon dalam menghadapi masalah :

Advocacy for Overcoming Difficulties
sebuah paradigma dalam mengatasi kesulitan-kesulitan hidup

1. FACE IT: – Hadapi, jangan melarikan diri
To look difficulties in the face instead of deceiving oneself by burying one’s head in the sand
Amati dan lihat secara tegas kesulitan-kesulitan itu daripada mencoba melarikan diri.

2. ACCEPT IT: – Menerimanya
To accept the fact of difficulties instead of blaming fate or other people
Lebih baik menerima kenyataan daripada mencari kambing hitam.

3. DEAL WITH IT: – Selesaikan sebaik-baiknya
To handle things with wisdom, and treat people with kindness and compassion
Atasi dengan kebijaksanaan dan perlakukan orang-orang dengan cinta kasih.

4. LET IT GO: – Biarkan saja
As long as one has done one’s best, it is not necessary to worry about gain or loss, success or failure
Sepanjang kita telah melakukan apa yang bisa kita lakukan, maka tidak perlu dikhawatirkan hasil akhirnya.

sumber : Klik disini

Setelah saya memperhatikan, hanya sedikit para ulama dan kalangan terpelajar yang mempunyai kesungguhan. Di antara tanda kesungguhan adalah mencari ilmu untuk beramal, sementara kebanyakan dari mereka menjadikan ilmu hanyalah sebagai alat untuk mencari pekerjaan dan mengejar kedudukan. Mereka berbondong-bondong mencari ilmu agar diangkat menjadi hakim atau hanya ingin membuat dirinya sekadar berbeda dari orang lain dan merasa cukup dengan hal itu. (Imam Ibnu al-Jauzy).

PEDULI

Peduli dan peka terhadap segala hal yang terjadi dalam lingkungan-nya serta selalu memelihara rasa cinta kasih kepada sesama.

POSITIF & ANTUSIAS

Selalu antusias dalam berpikir dan bertindak demi mencapai tujuan berusaha. Namun segala pemikiran dan tindakan tersebut bersifat positif demi menjaga kelangsungan usaha.

INISIATIF

Memiliki inisiatif dalam menjalankan usaha berdasarkan motivasi yang kuat untuk maju dan mencapai tujuan tanpa menunggu komando, dan tanpa menyimpang dari kebijakan perusahaan atau negara. Baca Lebih Lanjut »

Tulisan ini bukan apa-apa tapi merupakan renungan tentang betapa berharganya suatu kebahagian dan bersyukur.

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik.Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas.Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. ” Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini.Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?” Baca Lebih Lanjut »

Hampa
Tiada apa-apa
Hilang entah kemana
Berteriak, tanpa kata

Tanpa palang
Tanpa pintu
Tak kutemukan hati
Terasa sunyi

Apakah ini kehampaan
Dalam diriku yang dalam

Tanpa debu
Tanpa tawa
Tanpa dera
Tanpa apa-apa

Kosong
Inikah hampa itu

Semarang – Oktober 2008
Copet-92

Saya membaca di sebuah berita di surat kabar Surya, Surabaya mengenai anak yang bunuh diri karena sakit maag. Berikut berita yang kita bisa baca:

“Heran melihat Teguh Miswadi, 11, tidak masuk sekolah sejak Senin (18/2/2008), Sujarwo menjenguk salah satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru Sujarwo, 45, khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin membawanya ke Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan,Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu itu,Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh bunuh diri.

Seutas tali tampar biru menjerat lehernya,kata Sujarwo. Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap. Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.”

Berita yang menyedihkan ini memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita semua:

1. Jika kita memiliki tetangga yang dekat atau jauh kemudian dia sakit, maka kewajiban kita menolong dan menengoknya. Kalau bisa kita mengobatinya juga. Jangan sampai tetangga kita dibiarkan menderita kelaparan. Sudah menjadi tanggung jawab komunitas saling membantu.

2. Musuh nomor satu di Indonesia memang kemiskinan. Ini tanggung jawab para penyelenggara negara memberikan kemakmuran seluas-luasnya. Jangan sampai kelaparan kembali merenggut nyawa seorang siswa yang memiliki masa depan.

3. Tugas para ulama juga memberikan peringatan kepada para orang tua untuk memperhatikan pelajaran agama secara menyeluruh, bukan saja teori tetapi juga praktek dalam hal ini saling tolong menolong. Jangan sampai ulama hanya berceramah tanpa ada aksi yang nyata.

4. Sudah saatnya kita merenungkan untuk menolong keluarga yang terkena musibah berat ini. Sudah waktunya mengulurkan tangan sebisa mungkin menyantuni keluarga yang menghadapi ujian ini.

sumber