Skip navigation

suatu saat, di sebuah kota sedang diadakan lomba balap sepeda. suasana begitu sangat meriah karena pada hari itu adalah pertandingan final. Di babak final tersebut tinggal tersisa 5 orang pemain. salah seorang pemain tersebut bernama Adi yang kelihatannya orangnya biasa-biasa saja. Dan dari ke-5 pemain tersebut sepeda Adi terlihat yang paling jelek maklum sepeda balapnya model lama & sudah agak tua, dan beberapa anak menyangsikan kekuatan sepeda tersebut untuk berpacu dengan sepeda lawannya yang tergolong model terbaru. Namun Adi bangga dengan semua itu, sebab sepeda itu adalah sepeda kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakeknya yang sudah tiada.

Tibalah saatnya pertandingan final akan segera dimulai, semua pemain memposisikan diri di arena pacunya masing-masing. Setiap anak sudah bersiap untuk memacu sepedanya. namun ketika peluit aba-aba hendak ditiup tiba-tiba Adi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. matanya terpejam dan tanganya tertangkup. dan semenit kemudian ia berkata “Ya, aku siap”.

Peluit pun dibunyikan, dengan hentakan yang kuat semua pemain menggenjot sepedanya sekuat tenaga. para penonton pun bersorak semangat memberi dukungan kepada masing-masing pemain yang dijagokan. akhirnya tali lintasan finish pun terlambai dan Adilah pemenangnya. Semua penonton bersorak begitu juga dengan Adi, ia mengucapkan doa dan bersyukur dalam hati.

saat pembagian piala tiba, sang panitia berkata pada Adi ” Hai Jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang kan?”. Adi terdiam, kemudian menjawab “Bukan, Pak, bukan itu yang kupanjatkan”.
“sepertinya tidak adil untuk meminta pada Tuhan, untuk menolongmu mengalahkan orang lain, Saya hanya memohon kepada Tuhan supaya tidak menangis, jika aku kalah”. Semuanya terdiam, dan sesaat kemudian terdengarlah gemuruh tepuk tangan dari para penonton.

-=-

Ternyata seorang anak-anak pun bisa bersikap bijaksana, Adi tidaklah memohon kepada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian, dia juga tidak memohon agar Tuhan mengabulkan semua harapannya. dia tidak berdoa untuk menang, Namun Adi berdoa agar ia diberi kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberi kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin kita sering berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permiantaan kita. terlalu sering kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal sebenarnya yang kita butuhkan adalah Bimbingan-Nya, tuntunan-Nya dan panduan-Nya.

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat.
kita sering lupa dan cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang ingin kita lalui? saya yakin Tuhan memberikan ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh.

Link

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: